salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
    • Home
    • About Me
    • Contact Me
    • Tekno
    • Film
    • Travel
    • Food

     Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Saat berada di Kongres Kemandirian 2026, sebuah acara bagian dari peringatan Milad Dompet Dhuafa ke-33 tahun, saya terkesima dengan beberapa booth. Ternyata beragam lini hadir dalam kemeriahan kali, tak hanya donasi, pemberdayaan masyarakat mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Dompet Dhuafa mendorong masyarakat untuk naik kelas dan punya daya untuk menentukan masa depannya sendiri dalam Kongres Kemandirian 2026. 


    Terlintas ingatan ketika Saya melihat bagaimana semangat pemberdayaan itu berjalan melalui program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa di Cianjur. Kurban ternyata bukan hanya tentang menyalurkan daging kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat ketika hewan kurban berasal dari peternak lokal yang dibina secara berkelanjutan. 


    Sentra Ternak Cianjur, yang digarap bersama masyarakat, menjadi salah satu contoh bagaimana dana zakat dapat dikembangkan secara produktif sehingga peternak mendapatkan ruang untuk tumbuh, kapasitas produksi berkembang, dan manfaat kurban akhirnya tidak hanya dirasakan oleh penerima daging, tetapi juga oleh masyarakat yang berada di balik proses penyediaan hewan kurban. Dari sini saya melihat bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan menciptakan ekosistem agar masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh dan semakin mandiri. 


    Semangat tersebut sejalan dengan nafas yang dibawa Dompet Dhuafa sejak awal berdiri pada 2 Juli 1993. Berawal dari kepedulian untuk mengelola dana donasi dan bantuan yang dipercayakan masyarakat, Dompet Dhuafa kemudian mengembangkan pengelolaannya melalui lima pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, serta dakwah dan budaya. 


    Dana yang terkumpul tidak hanya dipandang sebagai bantuan yang selesai setelah disalurkan, tetapi diupayakan menjadi sumber daya yang dapat membuka akses, meningkatkan kapasitas, menciptakan peluang ekonomi, dan membangun kemampuan masyarakat untuk berkembang. Dari sinilah pemberdayaan menjadi bagian penting dalam perjalanan Dompet Dhuafa untuk mengubah semangat berbagi menjadi upaya jangka panjang agar masyarakat yang sebelumnya membutuhkan dukungan perlahan memiliki kemampuan untuk berdiri, menentukan pilihan, dan membangun masa depannya sendiri.


    Baca juga : Memilih Kambing Jantan Terbaik Dari Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa


    Dari Berbagi Menuju Berdikari, Semangat Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026

    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Bagi saya, kemandirian masyarakat tidak cukup hanya dilihat dari seberapa kuat seseorang secara ekonomi. Masyarakat yang benar-benar berdaya juga harus memiliki akses terhadap pendidikan dan kesehatan, mampu menghadapi perubahan, serta memiliki kemampuan untuk bangkit ketika berhadapan dengan krisis. Cara pandang inilah yang terasa kuat dalam Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 yang mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”. Forum ini tidak hanya membicarakan bagaimana masyarakat mendapatkan bantuan, tetapi lebih jauh membahas bagaimana berbagai potensi yang ada dapat dikolaborasikan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.


    Semangat tersebut kemudian terlihat dalam Diskusi Panel tentang Kesehatan dan Ketahanan Sosial bertajuk “Strengthening Community Wellbeing for Sustainable Development”. Diskusi ini menarik karena memperlihatkan bahwa membangun masyarakat yang mandiri juga berarti membangun masyarakat yang tangguh ketika menghadapi situasi tidak terduga. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 hingga berbagai bencana alam menunjukkan bahwa krisis dapat datang kapan saja, sehingga masyarakat membutuhkan kesiapsiagaan (emergency response), inovasi, dan fleksibilitas dalam menghadapinya.


    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026


    Dalam diskusi tersebut, perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang memiliki pengalaman dalam penanganan berbagai situasi krisis, termasuk sebagai Ketua Satgas Bencana Kemenkes RI, menekankan pentingnya membangun sistem kesehatan yang mampu merespons kondisi darurat. Pengalaman penanganan pandemi COVID-19, bencana di berbagai daerah seperti Flores, hingga misi kemanusiaan di Al-Arish untuk penyaluran bantuan ke Palestina menjadi pembelajaran bahwa persoalan kesehatan dan kemanusiaan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.


    Hal ini juga berkaitan dengan enam pilar transformasi kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, terutama dalam memperkuat sistem ketahanan kesehatan. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, koordinasi antar-lembaga, serta keterlibatan berbagai sektor menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi krisis. Dalam konteks ini, lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa memiliki posisi yang strategis karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan pengalaman dalam menjalankan berbagai program sosial serta kemanusiaan.


    Dari diskusi tersebut saya menangkap satu hal penting yaitu kemandirian bukan berarti harus berjalan sendiri. Justru masyarakat akan menjadi lebih kuat ketika pemerintah, lembaga filantropi, akademisi, dunia usaha, komunitas, praktisi, hingga masyarakat penerima manfaat dapat saling menguatkan. Kolaborasi menjadi modal penting agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada penyelesaian masalah sesaat, tetapi berkembang menjadi kemampuan masyarakat untuk menghadapi persoalan berikutnya.


    Inilah yang membuat Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 terasa relevan. Kemandirian bukan sebuah kondisi yang tiba-tiba muncul setelah seseorang menerima bantuan, melainkan proses panjang untuk membangun kapasitas manusia dan ekosistem yang mendukungnya. Dari kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga ketahanan sosial, semuanya saling berkaitan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kesehatan yang baik, kesempatan ekonomi, dan lingkungan yang mendukung, mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dapat tumbuh menjadi pelaku perubahan di lingkungan sekitarnya.


    Baca juga : Berzakat Itu Kalcer, Sambut Ramadan Dengan Ibadah Rutin


    Kemandirian Bukan Akhir, tetapi Awal Perubahan

    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Pada akhirnya, Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 mengingatkan saya bahwa membantu masyarakat tidak seharusnya berhenti pada memberikan apa yang dibutuhkan hari ini. Bantuan memang penting ketika seseorang berada dalam kondisi sulit, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana bantuan tersebut menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih mandiri. Ketika masyarakat mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, keterampilan, serta ruang untuk berkembang, mereka memiliki bekal untuk menentukan masa depannya sendiri.


    Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan Dompet Dhuafa sejak awal berdiri. Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi dikembangkan melalui lima pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, serta dakwah dan budaya. Berbagai program pemberdayaan menjadi bukti bahwa filantropi dapat memberikan dampak yang lebih panjang ketika masyarakat ditempatkan sebagai subjek perubahan.


    Kongres Kemandirian kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kekuatan tersebut. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, praktisi, lembaga filantropi, alumni penerima beasiswa, hingga penerima manfaat memiliki peran untuk membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat tumbuh dan berdaya. Diskusi mengenai kesehatan dan ketahanan sosial juga menunjukkan bahwa kemandirian bukan berarti harus berjalan sendirian. Justru kolaborasi menjadi kekuatan agar masyarakat mampu menghadapi berbagai tantangan dan bangkit ketika krisis datang.


    Bagi saya, pesan paling penting dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 adalah perubahan cara pandang dari sekadar membantu menjadi memberdayakan, dari penerima manfaat menjadi pelaku perubahan, dan dari bergantung menjadi mampu berdiri dengan kekuatan sendiri.


    Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan kebaikan bukan hanya tentang seberapa banyak bantuan yang diberikan, tetapi tentang seberapa banyak orang yang mampu bangkit, berdiri, dan kemudian membantu orang lain untuk tumbuh bersama. Di situlah makna kemandirian benar-benar menemukan bentuknya.


    Dompet Dhuafa 

    Website : https://digital.dompetdhuafa.org/

    Instagram : https://www.instagram.com/dompetdhuafaorg/


    Continue Reading

     

    "Kalau ke Hatyai gimana?"

    Padahal awalnya cuma ada dua pilihan, Melaka atau Penang. Dua kota yang sudah cukup akrab buat saya, jadi rasanya tinggal pilih mana yang paling gampang dijangkau dari Kuala Lumpur. Tapi namanya juga obrolan santai sambil duduk di kafe, satu pertanyaan sederhana soal Hatyai justru membuka pintu ke rencana yang sama sekali tidak ada dalam bayangan. Bahkan sempat muncul ide yang jauh lebih nekat, naik kereta dari Kuala Lumpur menuju Bangkok dengan transit dulu di Hatyai, yang kalau benar dijalani bisa memakan waktu sehari semalam penuh di perjalanan.

    "Kalau ke Hatyai naik apa?"

    Astari, sahabat perjalanan saya selama di Kuala Lumpur, ikut penasaran. Pertanyaannya justru membuat ide yang tadinya cuma bercanda terasa semakin mungkin untuk dijalankan.

    Sebenarnya, kedatangan saya ke Kuala Lumpur kali itu bukan sekadar liburan biasa. Saya diundang oleh penyelenggara untuk mengikuti Keretapi Sarong, sebuah perhelatan budaya internasional yang dirayakan setiap Hari Malaysia di Dataran Merdeka. Sebagai konten kreator yang diundang mewakili Indonesia, ada rasa bangga tersendiri bisa ikut berbaur bersama ribuan orang dari berbagai etnis, semuanya mengenakan kain dan sarung sambil naik transportasi umum menuju Dataran Merdeka. Saya sendiri memilih memadukan sarung bermotif khas Nusantara dengan udeng Bali di kepala, sebuah cara kecil untuk menunjukkan bahwa Indonesia juga punya warisan kain dan budaya yang tidak kalah kaya. Setelah acara itu usai, jiwa penjelajah saya rupanya belum puas, dan di sinilah cerita Hatyai dimulai.

    "Kalau mau cepat bisa naik kereta sih."

    Tanpa banyak diskusi lagi, kami langsung menuju KL Sentral. Buat saya, KL Sentral selalu punya daya tarik tersendiri. Bukan sekadar stasiun, tapi semacam titik pertemuan berbagai arah perjalanan. Orang datang dari mana saja, turun dari satu moda transportasi, lalu berpindah ke moda lain untuk melanjutkan tujuan masing-masing. Ada yang menuju bandara, ada yang pulang kampung, ada pula yang sedang memulai perjalanan lintas negara seperti kami berdua siang itu.

    Sialnya, begitu sampai di loket kereta menuju Padang Besar, stasiun penghubung sebelum Hatyai, kami langsung disambut kabar yang bikin lemas.

    "Habis tiketnya."

    Weekend. Kami sampai lupa hari itu akhir pekan, saat orang-orang juga sama semangatnya untuk bepergian. Duduk sebentar di bangku tunggu, saya dan Astari mulai memikirkan opsi lain.

    "Kita ke Pudu Sentral aja, cari tiket bus di sana."

    Naik taksi online, kami pindah ke Pudu Sentral, terminal bus antarkota sekaligus lintas negara yang cukup besar di Malaysia. Sempat bingung juga cara membeli tiketnya, sebab meski bisa pesan lewat aplikasi RedBus, tetap harus ditukar dulu di loket. Antreannya panjang sekali, bukan cuma belasan orang tapi terasa seperti ratusan, semuanya berdesakan membawa koper, ransel, bahkan ada yang menggendong anak kecil sambil menunggu giliran. Saya sempat memperhatikan wajah-wajah di sekitar, beragam etnis bercampur begitu saja di satu ruangan yang sama, ada yang berkulit gelap, berkulit terang, bermata sipit, bermata lebar. Entah kenapa momen itu selalu membuat saya berpikir bahwa Kuala Lumpur ini semacam pintu masuk bagi siapa saja, baik yang sedang mengadu nasib maupun yang cuma numpang lewat seperti kami.

    Setelah tiket akhirnya di tangan, Astari mengajak makan dulu sebelum naik bus.

    "Yuk, makan dulu di atas."

    Perjalanan dari Pudu Sentral menuju Hatyai memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam, dan untungnya kami memilih bus malam supaya sebagian waktu bisa dipakai tidur. Saya sempat memejamkan mata begitu bus mulai berjalan meninggalkan lampu-lampu kota, tapi entah kenapa pikiran malah melayang ke sebelas tahun lalu, saat saya pernah melakukan rute yang mirip, hanya urutannya berbeda. Dulu saya berangkat dari Kuala Lumpur, bermalam semalam di Penang untuk berkeliling George Town, lalu transit di Hatyai sebelum meneruskan perjalanan ke Phuket, dan setelah hanya sempat menikmati pantainya sebentar, saya kembali lagi ke Hatyai dan pulang ke Kuala Lumpur.

    Kalau bisa bicara ke diri sendiri yang dulu, mungkin saya akan bilang, "Kamu hebat, Man." Saya pasti akan memuji Salman yang waktu itu sanggup menempuh perjalanan sehari semalam demi mengejar destinasi yang belum pernah dijamah. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Saya tidak lagi merasa perlu memaksakan diri mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan.

    "Bilang saja jompo," saya membatin sambil tersenyum sendiri.

    Mungkin ada benarnya, tapi saya rasa bukan cuma soal fisik. Cara saya menikmati perjalanan memang sudah berubah dalam sepuluh tahun terakhir. Dulu perjalanan panjang bukan masalah, yang penting sampai. Sekarang saya lebih suka menikmati tiap tahapnya, tidak buru-buru, dan tidak lagi merasa harus mengejar waktu atau tempat.

    Hatyai dan Penang, 11 Tahun Akhirnya Kembali

    Ketika mata saya kembali terbuka, matahari sudah bangun lebih dulu. Rupanya bus sudah sampai di perbatasan Malaysia dan Thailand. Paspor kami dikumpulkan untuk distempel di Imigrasi Bukit Kayu Hitam, lalu tak jauh dari situ bus berhenti lagi di Imigrasi Sadao. Semuanya berjalan lancar, meski jujur saja sudah lama sekali saya tidak melewati perbatasan negara lewat jalur darat seperti ini. Setelah proses imigrasi kelar, jarak menuju Hatyai tinggal sekitar satu sampai dua jam lagi.

    "Krukk!" Perut saya tiba-tiba memberontak, mengingatkan kalau sejak makan di Pudu Sentral belum ada yang masuk lagi. Saya buru-buru mengambil snack dari tas dan melahapnya. Saya sempat mencoba memejamkan mata lagi, tapi pemandangan dari kaca bus rasanya sayang untuk dilewatkan. Pedesaan Thailand terlihat tidak terlalu jauh berbeda dengan suasana kampung di Indonesia, rumah-rumah berdiri di antara sawah dan kebun yang membentang panjang.

    "Hatyai!" teriak petugas bus, tanda perjalanan malam itu sudah sampai di titik akhir. Saya bergegas turun bersama Astari, dan setelah sebelas tahun, akhirnya saya menginjakkan kaki lagi di kota kecil ini.

    Kami mencari minimarket untuk mengisi perut, sambil sekalian memesan hostel untuk semalam karena keesokan harinya saya berencana melanjutkan perjalanan ke Penang. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, kami tiba di hostel yang lobinya sekaligus berfungsi sebagai kafe. "Your passport," kata resepsionis, dan seperti biasa paspor jadi syarat wajib saat check in.

    "Can we take a shower?"

    "Yes!"

    Rasanya itu jawaban paling melegakan setelah semalaman duduk di bus. Setelah mandi dan berganti baju, kami mulai menjelajah Hatyai, kota kecil yang dikenal sebagai gerbang Provinsi Songkhla di Thailand Selatan, dengan mayoritas masyarakatnya memeluk Islam sehingga tidak sulit menemukan pedagang makanan yang mengenakan jilbab. 

    Sebelum benar-benar check in, kami mampir dulu memesan Thai tea yang menggoda di tengah cuaca panas. "Thai tea two, please!" dan tegukan terakhirnya jadi penutup manis sebelum kami resmi menaruh koper di kamar.

    Malamnya kami menyusuri pasar malam yang memanjang di dekat sebuah mal. Nasi goreng jadi pilihan makan malam, lalu dilanjut mampir ke deretan toko yang menjual skincare khas Thailand, harganya murah dengan kualitas yang cukup bagus, jadi sekalian saja saya membeli beberapa produk yang stoknya sudah habis. Esok paginya kami sempat mengunjungi Wat Hatyai Nai, kuil dengan patung Buddha berbaring sepanjang 35 meter, serta Masjid Mahmudiyah Hatyai-Nai yang lokasinya tidak jauh dari sana.

    Menariknya, sepanjang menjelajah tempat-tempat itu, saya baru sadar betapa sibuknya mata saya bekerja tanpa henti. Sebagai blogger dan content creator, hampir mustahil rasanya benar-benar lepas dari layar. Setiap menemukan sudut yang menarik, tangan otomatis meraih smartphone, mengambil foto, merekam video, lalu memeriksa hasilnya berkali-kali. 

    Sesekali membuka Instagram untuk melihat unggahan sebelumnya, sesekali membuka TikTok, membalas pesan yang masuk, mengecek Google Maps supaya tidak salah arah, sampai menulis catatan kecil untuk bahan tulisan nanti. Belum lagi malam harinya, ketika laptop dibuka untuk memindahkan foto, mengedit video, dan mulai menyusun cerita perjalanan. Saya baru sadar, ternyata sepanjang perjalanan itu mata saya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

    Sebelum meninggalkan Hatyai, kami sempat berfoto di depan hostel, sekadar kenang-kenangan meski cuma menginap semalam. Resepsionis mengucap "Thank you!" sebagai salam perpisahan, dan tibalah waktunya berpisah dengan Astari. Ia akan kembali ke Kuala Lumpur naik kereta, sementara saya melanjutkan perjalanan lintas negara menuju Penang sore itu.

    "Hati-hati ceu," ucap saya sebelum kami benar-benar berpisah.

    Saya melanjutkan perjalanan naik minivan berisi sekitar sepuluh sampai dua belas penumpang, memakan waktu sekitar empat jam menuju Penang. Karena harus melewati perbatasan lagi, minivan sempat berhenti di Imigrasi Sadao lalu Bukit Kayu Hitam. Kalau Sadao terasa ramah dengan senyum petugasnya, Bukit Kayu Hitam justru terasa seperti gerbang selamat datang versi yang jauh lebih tegas. Sempat ada rasa was-was ketika berhadapan dengan petugas imigrasi Malaysia, saya sempat berpikir mereka akan bertanya kenapa hanya dua hari berada di Thailand, tapi ternyata itu cuma ketakutan yang saya ciptakan sendiri di kepala. Begitu stempel mendarat di paspor, rasa lega langsung datang. Hello Penang, I'm coming.

    Rute Hatyai menuju Penang ini sebenarnya mengingatkan saya lagi pada perjalanan sebelas tahun lalu, hanya saja urutannya kebalik. Dulu saya ke Penang dulu baru ke Hatyai, sekarang justru sebaliknya. Tapi satu hal yang tidak berubah adalah kebiasaan menatap jendela sepanjang perjalanan. Pemandangan sawah dan aktivitas warga Thailand perlahan berganti jadi jalanan mulus khas Malaysia begitu kami memasuki perbatasan. Mata terasa berat, sesekali terpejam mengikuti deru mesin minivan, sampai akhirnya senja datang tepat ketika kami memasuki jembatan dari Butterworth menuju Pulau Penang. Warna keemasan sempat mendominasi langit meski tidak berlangsung lama karena cuaca yang kurang cerah.

    Malam itu, setelah tubuh benar-benar duduk tenang di penginapan, saya baru merasakan sesuatu yang berbeda pada mata saya. Setelah seharian penuh melihat papan informasi di KL Sentral, mengantre di Pudu Sentral, memandangi jalanan dari kaca bus, membuka peta, memotret, merekam video, mengecek Instagram dan TikTok, sampai menatap layar laptop untuk menulis, mata saya mulai terasa sepet, kemudian perih, dan akhirnya lelah. Saya jadi lebih sering berkedip, bahkan beberapa kali ingin memejamkan mata lebih lama dari biasanya.

    Dari situ saya mulai memahami satu istilah sederhana yang belakangan sering saya jadikan pengingat, MATA SEPELE. SE untuk sepet, PE untuk perih, LE untuk lelah. Tiga kata pendek yang ternyata cukup menggambarkan apa yang saya rasakan setelah perjalanan panjang dan aktivitas digital yang seharian tidak berhenti. Saya juga mulai memahami bahwa Gejala Mata Kering bisa terasa begitu dekat dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika mata terus digunakan untuk menatap layar dan beraktivitas tanpa jeda. Rasanya bukan hal besar, tapi kalau dibiarkan terus menerus, lama-lama jadi mengganggu kenyamanan.

    Sejak perjalanan itu, saya mulai memperhatikan satu hal kecil yang sebelumnya sering terlupakan, yaitu apa saja yang saya bawa untuk menjaga kenyamanan selama perjalanan. Kalau dulu isi tas cuma soal kamera, charger, dan power bank, sekarang saya menambahkan satu perlengkapan pribadi yang ringkas tapi cukup penting, INSTO DRY EYES. Ketika mengalami Gejala Mata Kering di tengah perjalanan atau saat begadang menyelesaikan tulisan, saya membawanya sebagai bagian dari perlengkapan pribadi dan memakainya sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan. Kalau mata mulai terasa kurang nyaman setelah seharian menatap layar, saya tinggal Tetesin insto dry eyes sesuai petunjuk pada kemasan, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa.

    Mata Kering Jangan Disepelein, karena kalau dipikir-pikir, kita sering fokus menjaga stamina tubuh untuk perjalanan panjang, tapi lupa kalau mata juga ikut bekerja keras sepanjang hari.

    Perjalanan Boleh Jauh, Mata Tetap Butuh Jeda


    Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hatyai lalu berlanjut ke Penang ini akhirnya jadi jauh lebih berkesan dari yang saya bayangkan waktu pertama kali bertanya, "Kalau ke Hatyai gimana?" Dari rencana sederhana memilih Melaka atau Penang, berubah jadi perjalanan naik bus malam, mengantre tiket di Pudu Sentral, melewati dua kali perbatasan negara, mampir menikmati Thai tea dan pasar malam di Hatyai, sampai akhirnya kembali menyusuri jalan darat menuju Penang saat senja mulai turun.

    Dua hari di Hatyai memang terasa singkat, tapi cukup untuk mengobati rasa kangen yang sudah tersimpan sebelas tahun. Saya juga bertemu kembali dengan versi diri saya yang dulu, yang dengan gagah berani menempuh perjalanan seharian penuh demi mengejar destinasi baru. Dulu saya mengejar perjalanan. Sekarang saya belajar menikmati perjalanan. Bukan lagi soal berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tapi soal seberapa nyaman saya menjalani tiap langkahnya.

    Tapi ada satu hal yang tetap sama sejak dulu sampai sekarang, mata ikut menjalani seluruh perjalanan itu bersama saya. Mata ikut berangkat dari Kuala Lumpur. Mata ikut menyeberangi perbatasan menuju Hatyai. Mata ikut menikmati pasar malam dan Thai tea. Mata ikut memandangi sawah Thailand dari kaca minivan, lalu ikut menyaksikan senja di atas jembatan menuju Penang. Sebagai blogger dan content creator, mata saya bahkan bekerja dua kali lipat, bukan cuma menikmati pemandangan tapi juga membaca papan informasi, mengecek smartphone, membuka peta, mengambil foto dan video, sampai menatap layar laptop untuk menuliskan semua cerita ini.

    Karena itu, sejak perjalanan Hatyai ini saya jadi lebih sadar untuk menjaga kenyamanan mata di sela-sela aktivitas harian yang padat. Saya tidak ingin lagi menunggu sampai mata terasa sepet, perih, dan lelah baru mulai memperhatikannya. INSTO DRY EYES sekarang jadi bagian kecil dari perlengkapan perjalanan saya, sesuatu yang mudah dibawa dan dipakai sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan, terutama setelah seharian penuh naik bus, melewati perbatasan, dan sibuk mengurus konten untuk blog maupun media sosial.

    Sejauh apa pun kita pergi, sebanyak apa pun cerita yang ingin kita tulis, tubuh tetap membutuhkan jeda. Termasuk mata. Dan mungkin, perjalanan terbaik bukan ketika kita berhasil melihat sebanyak mungkin tempat, tetapi ketika kita masih bisa menikmati setiap pemandangan dengan mata yang tetap nyaman sampai akhir perjalanan.

    "Selamat datang kembali di Penang," ucap saya dalam hati begitu Pulau Mutiara Timur itu akhirnya terlihat dari kejauhan. Bukan cuma sebagai Salman yang kembali setelah sebelas tahun, tapi juga sebagai seseorang yang akhirnya belajar bahwa menjaga kenyamanan diri sendiri, termasuk sekadar Mata Kering Jangan Disepelein, sama pentingnya dengan mengejar cerita perjalanan itu sendiri.

    #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein




    Continue Reading

     


    Saya kira hari itu saya hanya akan datang ke sebuah cafe di Bekasi. Seniman Pangan Cafe dari luar terlihat seperti tempat yang cocok untuk menikmati makanan, berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman. Tidak ada bayangan sedikit pun kalau beberapa langkah setelah meninggalkan bangunan cafe, saya justru akan menemukan kebun pangan yang luasnya sekitar tiga hektare. Saya mengikuti rombongan menuju bagian belakang cafe, melewati area yang semakin lama semakin hijau, sampai akhirnya jalan yang kami lewati bukan lagi lantai seperti di dalam cafe, melainkan tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi berbagai tanaman. Saya sempat berhenti dan memperhatikan sekeliling, sedikit tidak percaya bahwa lahan seluas ini berada tepat di belakang sebuah cafe di Bekasi.

    Menemukan Kebun di Belakang Cafe

    Kami kemudian berjalan lebih jauh ke dalam kebun. Ada singkong, kopi, bunga telang, belimbing dan berbagai tanaman lainnya yang tumbuh di beberapa bagian lahan. Beberapa memang langsung saya kenali, tetapi tidak sedikit pula yang membuat saya harus bertanya. Lucu juga kalau dipikir-pikir, selama ini saya merasa cukup mengenal makanan karena hampir setiap hari bertemu dengannya, tetapi ternyata mengenal makanan tidak berarti saya mengenal tanamannya. Saya tahu kopi ketika sudah berada di dalam cangkir, tahu singkong ketika sudah tersaji di atas meja, dan mengenal bunga telang ketika warnanya sudah berubah menjadi minuman, tetapi ketika semuanya kembali ke bentuk aslinya di kebun, saya justru seperti sedang berkenalan dengan sesuatu yang baru. Mungkin kehidupan kota memang membuat saya terlalu sering bertemu dengan hasil akhirnya, sampai lupa bahwa sebelum menjadi makanan, semuanya pernah tumbuh dari tanah dan dirawat oleh seseorang.

    Hari itu saya tidak hanya diajak melihat-lihat. Kami juga diberi kesempatan untuk ikut menanam dan memanen hasil kebun. Tangan yang biasanya lebih sering memegang kamera atau ponsel kali ini harus berurusan dengan tanah. Saya mencoba menanam, kemudian beralih untuk memanen singkong. Batangnya saya pegang dan saya tarik perlahan, tetapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Tanah di sekelilingnya ikut terangkat sebelum akhirnya bagian singkong yang selama ini bersembunyi di bawah permukaan tanah mulai terlihat. Ada rasa senang yang sederhana ketika akhirnya hasil panen itu berhasil berada di tangan saya. Hanya singkong, memang, tetapi pengalaman mencabutnya sendiri membuat saya melihat makanan dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya tinggal membeli dan menikmati, sementara di sini saya bisa melihat salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang yang harus dilalui sebuah bahan pangan sebelum sampai ke meja makan.

    Dari kebun itu pula saya mulai mendengar cerita yang lebih panjang tentang Seniman Pangan. Ternyata apa yang saya lihat di belakang cafe bukan sekadar kebun untuk melengkapi suasana, melainkan bagian dari perjalanan untuk mengenalkan kembali kekayaan pangan Indonesia. Javara sendiri didirikan oleh Helianti Hilman pada 2008, sementara Sekolah Seniman Pangan mulai dikembangkan pada 2017 sebagai ruang untuk belajar, berkreasi dan mengembangkan potensi pangan lokal bersama petani serta masyarakat di berbagai daerah. Dari sana saya mulai memahami mengapa cerita tentang kebun, petani dan produk pangan terasa begitu kuat. Hasil kebun tidak berhenti ketika dipanen, tetapi masih memiliki perjalanan berikutnya, mulai dari pengolahan, pengembangan produk sampai akhirnya bisa dikenal oleh konsumen yang lebih luas.

    Dari Kebun Menjadi Pangan yang Mendunia

    Saya kemudian mendengar bahwa Seniman Pangan berkelana dari Sabang sampai Merauke, berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya untuk bertemu dengan petani dan mitra, mengenal berbagai tanaman sekaligus menggali resep serta pengetahuan pangan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Bagi saya, bagian ini justru yang paling menarik. Sebab sebuah resep kadang tidak ditemukan di buku, melainkan hidup dari cerita seorang ibu kepada anaknya, dari orang tua kepada generasi berikutnya, atau dari kebiasaan masyarakat yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Begitu pula dengan tanaman. Hari ini mungkin masih tumbuh dan dimanfaatkan, tetapi ketika hutan ditebang, lahan berubah atau generasi berikutnya tidak lagi mengenalnya, bukan tidak mungkin tanaman tersebut perlahan menghilang bersama pengetahuan yang menyertainya.

    Dari cerita tentang petani dan hasil kebun itu, saya kemudian mengetahui bahwa perjalanan pangan yang dikembangkan melalui ekosistem Javara sudah jauh melampaui pasar lokal. Berbagai produk pangan dari Indonesia telah diekspor ke lebih dari 25 negara di lima benua. Ada gula kelapa, coconut chips, beragam produk kelapa, mie dari bahan pangan lokal, beras, garam, rempah, madu dan berbagai produk pangan artisan lainnya. Saya membayangkan bagaimana sebuah bahan yang mungkin awalnya tumbuh di kebun seorang petani di pelosok Indonesia kemudian melewati proses yang panjang hingga akhirnya bisa berada di meja makan seseorang yang tinggal ribuan kilometer dari tempat asalnya. Dari tanah, berpindah ke tangan petani, kemudian diolah dan dikemas, sebelum akhirnya melakukan perjalanan ke negara lain. Ternyata di balik sebuah produk pangan ada begitu banyak tangan yang bekerja.

    Salah satu cerita yang kemudian membuat saya semakin penasaran adalah Sinagi Papua. Saya baru mengetahui tentang produk ini ketika mendengar bagaimana kekayaan pangan dan pengetahuan masyarakat di Papua bisa dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai lebih luas. Ada Bumbu Asin Nipah, garam yang dibuat dengan memanfaatkan tanaman nipah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya. Kalau mendengar kata garam, yang muncul di kepala tentu saja air laut dan tambak garam. Namun ternyata ada pengetahuan masyarakat di Papua tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka. Sinagi Papua juga mengembangkan Teh Moi Kamlowele, Kerupuk Sagu dan Keripik Ubi Tiga Warna. Ceritanya menjadi semakin menarik karena produk-produk tersebut tidak sekadar membawa rasa, tetapi juga membawa pengetahuan dan identitas masyarakat asalnya.

    Setelah berkeliling kebun dan mendengar berbagai cerita tersebut, saya kemudian diajak mengikuti workshop pengolahan pangan. Kali ini bukan lagi berjalan di antara tanaman, tetapi duduk dan mencoba mengolah bahan yang sebelumnya saya lihat di kebun. Salah satunya adalah membuat selai rosela. Saya mengikuti prosesnya sambil memperhatikan bagaimana bahan yang sederhana perlahan berubah menjadi produk yang sama sekali berbeda. Warna rosela yang khas membuat prosesnya terlihat menarik, sampai akhirnya kami bisa mencicipi hasil olahan sendiri. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau rosela yang saya kenal sebagai tanaman bisa menjadi selai yang bisa dinikmati dengan cara berbeda.

    Belum selesai dengan rosela, kami kemudian mencoba membuat sirup kemangi. Nah, yang satu ini benar-benar membuat saya penasaran karena selama ini kemangi bagi saya hanya punya satu tempat, yaitu di samping nasi, ayam goreng dan sambal sebagai lalapan. Ternyata ketika diolah dengan cara berbeda, kemangi bisa berubah menjadi sirup. Saya mencicipinya sambil tersenyum karena pengalaman sederhana itu kembali mengingatkan saya bahwa bahan pangan yang terlihat biasa ternyata bisa memiliki banyak kemungkinan. Mungkin yang dibutuhkan bukan selalu tanaman baru, melainkan cara baru untuk melihat tanaman yang sudah ada.

    Ketika Pangan Bukan Sekadar Makanan

    Semakin lama berada di Seniman Pangan, saya justru semakin sering memikirkan tanaman-tanaman yang tadi saya temui di kebun. Ada beberapa yang baru saya kenal, padahal mungkin bagi orang lain tanaman tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lalu muncul pertanyaan yang rasanya sederhana, tetapi cukup mengganggu pikiran saya: bagaimana kalau generasi mendatang hanya mengenal nama tanaman tanpa pernah melihat tanamannya secara langsung? Mereka mungkin tahu singkong, tetapi tidak pernah mencabutnya dari tanah. Mengenal bunga telang, tetapi hanya melalui foto. Mengetahui kemangi, tetapi tidak pernah tahu bahwa daun yang biasa dijadikan lalapan itu bisa diolah menjadi sirup. Dan yang lebih jauh lagi, bagaimana jika resep-resep yang diwariskan turun-temurun juga berhenti karena tidak lagi didokumentasikan dan diteruskan?

    Pertanyaan itu terasa semakin dekat ketika mengingat 9 Agustus sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia. Masyarakat adat di berbagai wilayah Indonesia memiliki hubungan yang begitu dekat dengan hutan, tanah, tanaman dan pangan. Banyak pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan alam tidak lahir dari buku atau ruang kelas, melainkan dari pengalaman panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika kita berbicara tentang menjaga lingkungan, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya pohonnya, tetapi juga pengetahuan yang hidup bersama pohon tersebut. Ada tanaman yang menjadi pangan, ada resep yang menjadi bagian dari budaya, dan ada masyarakat yang selama bertahun-tahun mengetahui bagaimana semuanya berjalan berdampingan.

    Menjelang pulang, saya sempat melihat kembali ke arah kebun yang tadi kami jelajahi. Rasanya sedikit berbeda dibanding ketika pertama kali datang. Singkong yang tadi saya lewati kini terasa lebih dekat karena saya sudah mencabutnya sendiri dari tanah. Kopi bukan hanya minuman yang biasa saya pesan. Bunga telang bukan sekadar warna biru yang cantik di dalam gelas. Begitu pula kemangi dan rosela yang beberapa jam sebelumnya saya lihat sebagai tanaman biasa, kini sudah memiliki cerita tersendiri setelah saya ikut mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

    Saya datang ke Seniman Pangan Cafe dengan pikiran akan mengunjungi sebuah cafe, tetapi justru kebun di belakangnya yang paling banyak saya bawa pulang dalam ingatan. Ada tanah, tanaman, petani, resep, pengetahuan, teknologi dan orang-orang yang mencoba mempertemukan semuanya agar pangan lokal tidak berhenti menjadi sesuatu yang hanya dikenal di tempat asalnya. Mungkin itulah harta karun yang sebenarnya saya temukan hari itu. Bukan sesuatu yang berkilauan atau tersimpan jauh di dalam tanah, tetapi sesuatu yang tumbuh di atasnya dan selama ini mungkin terlalu sering kita lewati tanpa benar-benar kita kenali.

    Dan ketika saya kembali mengingat pertanyaan yang beberapa kali muncul hari itu, “Ini tanaman apa?”, saya berharap suatu hari nanti anak-anak kita masih bisa menanyakannya sambil berdiri langsung di sebuah kebun, bukan karena mereka melihatnya di buku, tetapi karena tanaman itu masih tumbuh di hadapan mereka.

    Continue Reading

     















    Apa cita-cita kamu sewaktu kecil?

    Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya sederhana, ingin menjadi dokter. Mungkin terdengar seperti jawaban yang dimiliki banyak anak pada masanya. Namun, saat itu saya benar-benar percaya bahwa suatu hari nanti mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan.

    Sayangnya, perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Harapan untuk melanjutkan pendidikan di jurusan IPA harus pupus karena nilai yang saya peroleh belum memenuhi syarat. Sempat merasa kecewa, tetapi hidup mengajarkan bahwa satu pintu yang tertutup bukan berarti semua kesempatan ikut menghilang. Kesempatan lain datang ketika saya mengikuti UMPTN jalur IPC, yang saat itu masih memungkinkan peserta dari berbagai jurusan untuk memilih lintas bidang saat mendaftar ke perguruan tinggi.

    Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kesuksesan ternyata tidak ditentukan oleh jurusan yang dipilih, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak berhenti beradaptasi. Terlebih ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, saya seperti memulai lembaran baru. Mimpi yang dulu pernah berubah perlahan berganti menjadi tujuan hidup yang lebih realistis, yakni terus berkembang, bekerja dengan disiplin, dan memberikan manfaat melalui apa yang saya kerjakan hari ini. Dari perjalanan itulah saya belajar bahwa bersyukur adalah bagian penting dalam setiap pencapaian, sekecil apa pun hasilnya.

    Pemikiran itu kembali terlintas ketika saya berkesempatan menghadiri Indonesia Dream Festival 2026 yang diselenggarakan Dompet Dhuafa di Lantai LG Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Acara yang menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional sekaligus rangkaian program BesTeam (Bestian Sama Yatim) ini bukan sekadar festival untuk anak-anak. Lebih dari itu, saya melihat bagaimana sebuah mimpi dapat tumbuh ketika ada ruang yang mendukung, kesempatan untuk belajar, dan lingkungan yang percaya bahwa setiap anak berhak memiliki masa depan yang lebih baik.

    Baca juga : Dompet Dhuafa Luncurkan BesTeam

    Indonesia Dream Festival 2026, Ruang yang Menumbuhkan Harapan Anak Indonesia

    Indonesia Dream Festival Dompet Dhuafa

    Membayangkan ratusan anak berkumpul dalam satu acara mungkin menjadi hal yang biasa. Namun, suasana akan terasa berbeda ketika yang hadir adalah anak-anak yatim dan dhuafa dengan beragam latar belakang serta mimpi yang mereka simpan dalam hati. Indonesia Dream Festival 2026 hadir bukan sekadar menjadi sebuah festival, melainkan ruang yang memberikan pengalaman berharga bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensinya.

    Yang menarik dari penyelenggaraan festival ini adalah konsepnya yang tidak hanya berfokus pada hiburan. Setiap zona dirancang memiliki tujuan edukatif yang saling melengkapi. Anak-anak diajak mengenali bakat melalui Talent Zone, belajar tentang empati dan kepedulian di Bestian Kindness Zone, hingga berani membayangkan masa depan melalui Dream Zone. Semua pengalaman tersebut menjadi bekal sederhana yang dapat membantu mereka melihat dunia dengan cara yang lebih optimis.

    Indonesia Dream Festival Dompet Dhuafa

    Di sisi lain, Play Zone menghadirkan permainan tradisional sebagai media belajar yang menyenangkan. Permainan yang mungkin mulai jarang ditemui di tengah perkembangan teknologi justru kembali dikenalkan sebagai sarana membangun kerja sama, sportivitas, komunikasi, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya Indonesia. Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar berinteraksi dan menghargai satu sama lain.

    Aspek kesehatan juga menjadi perhatian penting dalam Indonesia Dream Festival 2026. Melalui Care Zone, Dompet Dhuafa memberikan layanan pemeriksaan kesehatan mata beserta pemberian kacamata bagi anak yang membutuhkan. Langkah ini menjadi bukti bahwa mendukung masa depan anak tidak cukup hanya melalui pendidikan, tetapi juga memastikan mereka memiliki kondisi kesehatan yang baik agar dapat belajar dan berkembang secara optimal.

    Menariknya lagi, Dompet Dhuafa turut memberikan penghargaan melalui BesTeam Award kepada individu, komunitas, perusahaan, maupun figur publik yang selama ini berkontribusi dalam mendukung tumbuh kembang anak yatim. Apresiasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap anak-anak bukan hanya tanggung jawab satu lembaga, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

    Indonesia Dream Festival Dompet Dhuafa














    Festival ini juga semakin lengkap dengan hadirnya talkshow bertema "Bekal Hebat untuk Meraih Mimpi". Sesi ini mengajak anak-anak memahami bahwa cita-cita tidak hanya dibangun melalui keberanian untuk bermimpi, tetapi juga membutuhkan karakter yang baik, kesehatan yang terjaga, semangat belajar, serta lingkungan yang terus memberikan dukungan. Kehadiran Quinn Salman sebagai penampil pada puncak acara pun menjadi penyemangat tersendiri yang membuat suasana festival semakin berkesan bagi para peserta.

    Melihat keseluruhan rangkaian acara, Indonesia Dream Festival 2026 memberikan pesan yang sangat kuat. Mimpi tidak lahir begitu saja, tetapi perlu dipupuk melalui pengalaman, kesempatan, dan kepercayaan bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak untuk berkembang. Inilah nilai yang terasa paling bermakna dari festival ini.

    Baca juga : Jangan Salah Memilih Lemari Pakaian

    Menumbuhkan Mimpi, Menghadirkan Masa Depan yang Lebih Baik

    Indonesia Dream Festival Dompet Dhuafa

    Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi anak-anak yatim dan dhuafa di Indonesia, kehadiran Indonesia Dream Festival 2026 menjadi bukti bahwa harapan dapat diwujudkan melalui langkah-langkah nyata. Tidak hanya menghadirkan kebahagiaan dalam satu hari, tetapi juga menanamkan pengalaman, kepercayaan diri, serta motivasi yang dapat mereka bawa untuk meraih cita-cita di masa depan.

    Melalui pendekatan yang memadukan pendidikan, kreativitas, budaya, kesehatan, dan kepedulian sosial, Dompet Dhuafa menunjukkan bahwa membangun masa depan anak tidak cukup dilakukan dengan bantuan sesaat. Dibutuhkan ruang yang mampu mengembangkan karakter, membuka wawasan, sekaligus menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya mimpi-mimpi besar.

    Pada akhirnya, setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk bermimpi tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi. Ketika lebih banyak pihak memilih untuk peduli dan terlibat, bukan tidak mungkin akan lahir semakin banyak generasi yang tumbuh dengan rasa percaya diri, semangat berbagi, serta keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik selalu dapat diperjuangkan bersama. Indonesia Dream Festival 2026 menjadi salah satu langkah nyata menuju harapan tersebut.


    Continue Reading
    Older
    Stories
    Logo Komunitas BRT Network
    Seedbacklink
    Intellifluence Herd Worth Value: $165

    Search

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    New Post

    Postingan Populer

    • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Sendiri? Belajar dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026
    • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang Sekali Lagi
    • Menemukan Harta Karun di Belakang Seniman Pangan Cafe
    • INDONESIA DREAM FESTIVAL 2026, DOMPET DHUAFA WUJUDKAN IMPIAN ANAK INDONESIA
    • Jangan Salah Memilih Lemari Pakaian, Pilihlah Lemari Besi
    • Bermimpilah dan Wujudkan dalam Resolusi
    • [Fiksi Blogfam] I-Pop
    • Yogyakarta (I) : Raminten, Prambanan & Ratu Boko
    • Kado Buku Di Harbuknas
    • Smartfren Luncurkan Andromax 4G LTE

    Blog Archive

    • ▼  2026 (17)
      • ▼  Agustus (3)
        • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Send...
        • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang...
        • Menemukan Harta Karun di Belakang Seniman Pangan Cafe
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2025 (32)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2024 (52)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (7)
      • ►  Oktober (8)
      • ►  September (4)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2023 (68)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (8)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (7)
      • ►  Maret (8)
      • ►  Februari (6)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2022 (75)
      • ►  Desember (14)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (12)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (4)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (12)
      • ►  Maret (6)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2021 (38)
      • ►  Desember (4)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (4)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2020 (25)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (53)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (7)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (8)
    • ►  2018 (83)
      • ►  Desember (9)
      • ►  November (8)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (8)
      • ►  Agustus (13)
      • ►  Juli (6)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (9)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2017 (36)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2016 (41)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (3)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (7)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2015 (63)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (11)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (6)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2014 (11)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (5)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2010 (1)
      • ►  Desember (1)

    Blogger Friend

    • Small Things, Kecil Tapi Penting :)
    • Jurnal Evi Indrawanto
    • All of Putri (¬.¬)ƪ_(˘⌣˘'!)
    • BETOIJO
    • Catatan Anazkia
    • Jalan Pendaki
    • Ninik Setyarini
    • jinjinger
    • yosbeda
    • Dunia Kecil Indi
    • Indah Julianti
    • WHEN IT'S ONLY JG & AST
    • ..:: ntan™ | bunga dengan nama terbuka
    • desperate housewife
    • Herdis Suryatna | Pengalaman adalah guru yang terbaik
    • Albarnation
    • Melfeyadin
    • Blog Bukunya Kimi | Banyak-banyaklah Membaca. Biar Pintar.
    • Lucia Priandarini
    • Ca Ya
    • Chronosphere
    • Wuri Nugraeni | Reporter, Menulis, dan Wisata
    • irhapunya
    • Ratu de Blog
    • Linda Leenk - Little Part of My Life
    • Motherhood
    • Lianny Hendrawati
    • Saoscabe.com | Website Humor Indonesia
    • Melihat Dunia
    • Catatan Ruslan
    • Cokelat Gosong
    • Berbagi Cerita
    • Mira Sahid
    • Tulisanku
    • pemainkata | sekadar bilik kecil pecinta kata
    • DISGiOVERY
    • Blog - Lucedale.
    • Gulanya Gulali
    • Redcarra
    • Ahmad Rafiq Chaniago
    • hidayah-art.blogspot.co
    • suarane.org
    • zubaid.ID
    • Macangadungan
    • Write Your Diary
    • Blognya bisot
    • Aulia Fasya
    • Ruang Emak
    • HM Zwan
    • Narzis Blog
    • Life begins at 30...
    • Rianda Prayoga Blog
    • Cerita EKA
    • Tukangecuprus
    • Arian's Blog
    • HELLO!
    • Bangsari
    • tindak tanduk arsitek
    • Resep Kuliner Indonesia dan Dunia
    • udafanz[dot]com
    • Donna Imelda
    • Tukang Ngukur Jalan
    • Benablog - Cerita Si Benakribo
    • sketsa hati
    • #FDCG
    • Natureve Shop
    • SimBale - Download Software Gratis
    • Kimi's Cool Blog
    • Nicegreen
    • Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik » Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik
    • Jogja Ready
    • Kaleng Harapan » Kamera Lubang Jarum
    • fanabis
    • backpackstory
    • - Connect and Share Blogging Tips in Two Languages
    • ge[n][d]ud BlogPacker
    • Akhmad Muhaimin Azzet | mari bersama menggapai ridha-Nya
    • Jendela Keluarga
    • Febry Hadinata WordPress
    • Jefferson's Stage.
    • Wira Nurmansyah
    • Keluarga Haripahargio
    • Cinta Teknologi
    • My Daily Notes
    • Arsitektur Dunia | Gallery Arsitektur Dunia
    • Una Vida Escrita de la Una
    • The Dusty Sneakers
    • Mampir yuk, kerumahku
    • A HOUSEWIFE'S DAY OUT
    • Pemimpi Hujan
    • AGIASAZIYA
    • Angga Ong
    • Kehidupan Di Jepang
    • YOGA AS YOGGAAS
    • Dian Kelana
    • my story
    • fitrian.net
    • Putrinyanormal
    • Jejak BOcahiLANG
    • Petrus Andre Blog
    • SECAWANKOPISENJA
    • The TraveLearn
    • Blog Adi Nugraha
    • Pipit Widya
    • yandi punya cerita
    • Nova Wijaya
    • Taqorrub.com
    • .: adie DOES :.
    • Garis Horizon
    • Langkah Baruku
    • A Border that Breaks
    • Rumah Mayaku
    • Galaksi Pungky
    • Netnesia
    • lalank pattrya dan hal random lainnya.
    • Menuliskan Sebelum Terlupakan
    • aksara senandika | Sedikit noktah kehidupan
    • Jejaring Miss Fenny
    • SALAMINZAGHI
    • Travel Diary
    • Fardelyn Hacky
    • Gembul Kecil Penuh Debu
    • Dunia Senja
    • Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane
    • pegipegi.com: Pesan Hotel & Tiket Pesawat Termurah Online
    • BLOGFAM – When Sharing Meets Caring
    • Widaku.com
    • Dija Princess
    • TGIF! Magazine
    • BlogCamp
    • when journalist becomes backpacker
    • Shintaries
    • Ika Koentjoro
    • Makhluk Kecil
    • .:: Nhie ::. | Just another WordPress.com weblog
    • Sisi Hidupku
    • Anisa AE
    • BlogS of Hariyanto
    • My Purple World
    • punyapista
    • every mom has a story
    • mata buku indri
    • Blog Anak Nelayan
    • Perjalanan Tak Berujung
    • The Shymphony Of EKA
    • Bibi Titi Teliti
    • Controversy
    • My Life My Style
    • Catatan Perjalananku
    • Ayu Saritem Blog
    • Beautify Me
    • Dunia Iwok
    • Catatan Kartina
    • eithea
    • Stay Hungry. Stay Foolish
    • Aksaraku
    • Jurnal Mira Sahid | Emak Blogger
    • Beby's Diary
    • a Dreamer - Travelographer - Food Adventurer - Travel Blogger
    Perlihatkan 5 Perlihatkan Semua

    Labels

    Asuransi Backpacker Bank Budaya Fashion Film Movie Review Wisata otomotif
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top