"Kalau ke Hatyai gimana?"
Padahal awalnya cuma ada dua pilihan, Melaka atau Penang. Dua kota yang sudah cukup akrab buat saya, jadi rasanya tinggal pilih mana yang paling gampang dijangkau dari Kuala Lumpur. Tapi namanya juga obrolan santai sambil duduk di kafe, satu pertanyaan sederhana soal Hatyai justru membuka pintu ke rencana yang sama sekali tidak ada dalam bayangan. Bahkan sempat muncul ide yang jauh lebih nekat, naik kereta dari Kuala Lumpur menuju Bangkok dengan transit dulu di Hatyai, yang kalau benar dijalani bisa memakan waktu sehari semalam penuh di perjalanan.
"Kalau ke Hatyai naik apa?"
Astari, sahabat perjalanan saya selama di Kuala Lumpur, ikut penasaran. Pertanyaannya justru membuat ide yang tadinya cuma bercanda terasa semakin mungkin untuk dijalankan.
Sebenarnya, kedatangan saya ke Kuala Lumpur kali itu bukan sekadar liburan biasa. Saya diundang oleh penyelenggara untuk mengikuti Keretapi Sarong, sebuah perhelatan budaya internasional yang dirayakan setiap Hari Malaysia di Dataran Merdeka. Sebagai konten kreator yang diundang mewakili Indonesia, ada rasa bangga tersendiri bisa ikut berbaur bersama ribuan orang dari berbagai etnis, semuanya mengenakan kain dan sarung sambil naik transportasi umum menuju Dataran Merdeka. Saya sendiri memilih memadukan sarung bermotif khas Nusantara dengan udeng Bali di kepala, sebuah cara kecil untuk menunjukkan bahwa Indonesia juga punya warisan kain dan budaya yang tidak kalah kaya. Setelah acara itu usai, jiwa penjelajah saya rupanya belum puas, dan di sinilah cerita Hatyai dimulai.
"Kalau mau cepat bisa naik kereta sih."
Tanpa banyak diskusi lagi, kami langsung menuju KL Sentral. Buat saya, KL Sentral selalu punya daya tarik tersendiri. Bukan sekadar stasiun, tapi semacam titik pertemuan berbagai arah perjalanan. Orang datang dari mana saja, turun dari satu moda transportasi, lalu berpindah ke moda lain untuk melanjutkan tujuan masing-masing. Ada yang menuju bandara, ada yang pulang kampung, ada pula yang sedang memulai perjalanan lintas negara seperti kami berdua siang itu.
Sialnya, begitu sampai di loket kereta menuju Padang Besar, stasiun penghubung sebelum Hatyai, kami langsung disambut kabar yang bikin lemas.
"Habis tiketnya."
Weekend. Kami sampai lupa hari itu akhir pekan, saat orang-orang juga sama semangatnya untuk bepergian. Duduk sebentar di bangku tunggu, saya dan Astari mulai memikirkan opsi lain.
"Kita ke Pudu Sentral aja, cari tiket bus di sana."
Naik taksi online, kami pindah ke Pudu Sentral, terminal bus antarkota sekaligus lintas negara yang cukup besar di Malaysia. Sempat bingung juga cara membeli tiketnya, sebab meski bisa pesan lewat aplikasi RedBus, tetap harus ditukar dulu di loket. Antreannya panjang sekali, bukan cuma belasan orang tapi terasa seperti ratusan, semuanya berdesakan membawa koper, ransel, bahkan ada yang menggendong anak kecil sambil menunggu giliran. Saya sempat memperhatikan wajah-wajah di sekitar, beragam etnis bercampur begitu saja di satu ruangan yang sama, ada yang berkulit gelap, berkulit terang, bermata sipit, bermata lebar. Entah kenapa momen itu selalu membuat saya berpikir bahwa Kuala Lumpur ini semacam pintu masuk bagi siapa saja, baik yang sedang mengadu nasib maupun yang cuma numpang lewat seperti kami.
Setelah tiket akhirnya di tangan, Astari mengajak makan dulu sebelum naik bus.
"Yuk, makan dulu di atas."
Perjalanan dari Pudu Sentral menuju Hatyai memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam, dan untungnya kami memilih bus malam supaya sebagian waktu bisa dipakai tidur. Saya sempat memejamkan mata begitu bus mulai berjalan meninggalkan lampu-lampu kota, tapi entah kenapa pikiran malah melayang ke sebelas tahun lalu, saat saya pernah melakukan rute yang mirip, hanya urutannya berbeda. Dulu saya berangkat dari Kuala Lumpur, bermalam semalam di Penang untuk berkeliling George Town, lalu transit di Hatyai sebelum meneruskan perjalanan ke Phuket, dan setelah hanya sempat menikmati pantainya sebentar, saya kembali lagi ke Hatyai dan pulang ke Kuala Lumpur.
Kalau bisa bicara ke diri sendiri yang dulu, mungkin saya akan bilang, "Kamu hebat, Man." Saya pasti akan memuji Salman yang waktu itu sanggup menempuh perjalanan sehari semalam demi mengejar destinasi yang belum pernah dijamah. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Saya tidak lagi merasa perlu memaksakan diri mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan.
"Bilang saja jompo," saya membatin sambil tersenyum sendiri.
Mungkin ada benarnya, tapi saya rasa bukan cuma soal fisik. Cara saya menikmati perjalanan memang sudah berubah dalam sepuluh tahun terakhir. Dulu perjalanan panjang bukan masalah, yang penting sampai. Sekarang saya lebih suka menikmati tiap tahapnya, tidak buru-buru, dan tidak lagi merasa harus mengejar waktu atau tempat.
Hatyai dan Penang, 11 Tahun Akhirnya Kembali
Ketika mata saya kembali terbuka, matahari sudah bangun lebih dulu. Rupanya bus sudah sampai di perbatasan Malaysia dan Thailand. Paspor kami dikumpulkan untuk distempel di Imigrasi Bukit Kayu Hitam, lalu tak jauh dari situ bus berhenti lagi di Imigrasi Sadao. Semuanya berjalan lancar, meski jujur saja sudah lama sekali saya tidak melewati perbatasan negara lewat jalur darat seperti ini. Setelah proses imigrasi kelar, jarak menuju Hatyai tinggal sekitar satu sampai dua jam lagi.
"Krukk!" Perut saya tiba-tiba memberontak, mengingatkan kalau sejak makan di Pudu Sentral belum ada yang masuk lagi. Saya buru-buru mengambil snack dari tas dan melahapnya. Saya sempat mencoba memejamkan mata lagi, tapi pemandangan dari kaca bus rasanya sayang untuk dilewatkan. Pedesaan Thailand terlihat tidak terlalu jauh berbeda dengan suasana kampung di Indonesia, rumah-rumah berdiri di antara sawah dan kebun yang membentang panjang.
"Hatyai!" teriak petugas bus, tanda perjalanan malam itu sudah sampai di titik akhir. Saya bergegas turun bersama Astari, dan setelah sebelas tahun, akhirnya saya menginjakkan kaki lagi di kota kecil ini.
Kami mencari minimarket untuk mengisi perut, sambil sekalian memesan hostel untuk semalam karena keesokan harinya saya berencana melanjutkan perjalanan ke Penang. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, kami tiba di hostel yang lobinya sekaligus berfungsi sebagai kafe. "Your passport," kata resepsionis, dan seperti biasa paspor jadi syarat wajib saat check in.
"Can we take a shower?"
"Yes!"
Rasanya itu jawaban paling melegakan setelah semalaman duduk di bus. Setelah mandi dan berganti baju, kami mulai menjelajah Hatyai, kota kecil yang dikenal sebagai gerbang Provinsi Songkhla di Thailand Selatan, dengan mayoritas masyarakatnya memeluk Islam sehingga tidak sulit menemukan pedagang makanan yang mengenakan jilbab.
Sebelum benar-benar check in, kami mampir dulu memesan Thai tea yang menggoda di tengah cuaca panas. "Thai tea two, please!" dan tegukan terakhirnya jadi penutup manis sebelum kami resmi menaruh koper di kamar.
Malamnya kami menyusuri pasar malam yang memanjang di dekat sebuah mal. Nasi goreng jadi pilihan makan malam, lalu dilanjut mampir ke deretan toko yang menjual skincare khas Thailand, harganya murah dengan kualitas yang cukup bagus, jadi sekalian saja saya membeli beberapa produk yang stoknya sudah habis. Esok paginya kami sempat mengunjungi Wat Hatyai Nai, kuil dengan patung Buddha berbaring sepanjang 35 meter, serta Masjid Mahmudiyah Hatyai-Nai yang lokasinya tidak jauh dari sana.
Menariknya, sepanjang menjelajah tempat-tempat itu, saya baru sadar betapa sibuknya mata saya bekerja tanpa henti. Sebagai blogger dan content creator, hampir mustahil rasanya benar-benar lepas dari layar. Setiap menemukan sudut yang menarik, tangan otomatis meraih smartphone, mengambil foto, merekam video, lalu memeriksa hasilnya berkali-kali.
Sesekali membuka Instagram untuk melihat unggahan sebelumnya, sesekali membuka TikTok, membalas pesan yang masuk, mengecek Google Maps supaya tidak salah arah, sampai menulis catatan kecil untuk bahan tulisan nanti. Belum lagi malam harinya, ketika laptop dibuka untuk memindahkan foto, mengedit video, dan mulai menyusun cerita perjalanan. Saya baru sadar, ternyata sepanjang perjalanan itu mata saya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Sebelum meninggalkan Hatyai, kami sempat berfoto di depan hostel, sekadar kenang-kenangan meski cuma menginap semalam. Resepsionis mengucap "Thank you!" sebagai salam perpisahan, dan tibalah waktunya berpisah dengan Astari. Ia akan kembali ke Kuala Lumpur naik kereta, sementara saya melanjutkan perjalanan lintas negara menuju Penang sore itu.
"Hati-hati ceu," ucap saya sebelum kami benar-benar berpisah.
Saya melanjutkan perjalanan naik minivan berisi sekitar sepuluh sampai dua belas penumpang, memakan waktu sekitar empat jam menuju Penang. Karena harus melewati perbatasan lagi, minivan sempat berhenti di Imigrasi Sadao lalu Bukit Kayu Hitam. Kalau Sadao terasa ramah dengan senyum petugasnya, Bukit Kayu Hitam justru terasa seperti gerbang selamat datang versi yang jauh lebih tegas. Sempat ada rasa was-was ketika berhadapan dengan petugas imigrasi Malaysia, saya sempat berpikir mereka akan bertanya kenapa hanya dua hari berada di Thailand, tapi ternyata itu cuma ketakutan yang saya ciptakan sendiri di kepala. Begitu stempel mendarat di paspor, rasa lega langsung datang. Hello Penang, I'm coming.
Rute Hatyai menuju Penang ini sebenarnya mengingatkan saya lagi pada perjalanan sebelas tahun lalu, hanya saja urutannya kebalik. Dulu saya ke Penang dulu baru ke Hatyai, sekarang justru sebaliknya. Tapi satu hal yang tidak berubah adalah kebiasaan menatap jendela sepanjang perjalanan. Pemandangan sawah dan aktivitas warga Thailand perlahan berganti jadi jalanan mulus khas Malaysia begitu kami memasuki perbatasan. Mata terasa berat, sesekali terpejam mengikuti deru mesin minivan, sampai akhirnya senja datang tepat ketika kami memasuki jembatan dari Butterworth menuju Pulau Penang. Warna keemasan sempat mendominasi langit meski tidak berlangsung lama karena cuaca yang kurang cerah.
Malam itu, setelah tubuh benar-benar duduk tenang di penginapan, saya baru merasakan sesuatu yang berbeda pada mata saya. Setelah seharian penuh melihat papan informasi di KL Sentral, mengantre di Pudu Sentral, memandangi jalanan dari kaca bus, membuka peta, memotret, merekam video, mengecek Instagram dan TikTok, sampai menatap layar laptop untuk menulis, mata saya mulai terasa sepet, kemudian perih, dan akhirnya lelah. Saya jadi lebih sering berkedip, bahkan beberapa kali ingin memejamkan mata lebih lama dari biasanya.
Dari situ saya mulai memahami satu istilah sederhana yang belakangan sering saya jadikan pengingat, MATA SEPELE. SE untuk sepet, PE untuk perih, LE untuk lelah. Tiga kata pendek yang ternyata cukup menggambarkan apa yang saya rasakan setelah perjalanan panjang dan aktivitas digital yang seharian tidak berhenti. Saya juga mulai memahami bahwa Gejala Mata Kering bisa terasa begitu dekat dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika mata terus digunakan untuk menatap layar dan beraktivitas tanpa jeda. Rasanya bukan hal besar, tapi kalau dibiarkan terus menerus, lama-lama jadi mengganggu kenyamanan.
Sejak perjalanan itu, saya mulai memperhatikan satu hal kecil yang sebelumnya sering terlupakan, yaitu apa saja yang saya bawa untuk menjaga kenyamanan selama perjalanan. Kalau dulu isi tas cuma soal kamera, charger, dan power bank, sekarang saya menambahkan satu perlengkapan pribadi yang ringkas tapi cukup penting, INSTO DRY EYES. Ketika mengalami Gejala Mata Kering di tengah perjalanan atau saat begadang menyelesaikan tulisan, saya membawanya sebagai bagian dari perlengkapan pribadi dan memakainya sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan. Kalau mata mulai terasa kurang nyaman setelah seharian menatap layar, saya tinggal Tetesin insto dry eyes sesuai petunjuk pada kemasan, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Mata Kering Jangan Disepelein, karena kalau dipikir-pikir, kita sering fokus menjaga stamina tubuh untuk perjalanan panjang, tapi lupa kalau mata juga ikut bekerja keras sepanjang hari.
Perjalanan Boleh Jauh, Mata Tetap Butuh Jeda
Dua hari di Hatyai memang terasa singkat, tapi cukup untuk mengobati rasa kangen yang sudah tersimpan sebelas tahun. Saya juga bertemu kembali dengan versi diri saya yang dulu, yang dengan gagah berani menempuh perjalanan seharian penuh demi mengejar destinasi baru. Dulu saya mengejar perjalanan. Sekarang saya belajar menikmati perjalanan. Bukan lagi soal berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tapi soal seberapa nyaman saya menjalani tiap langkahnya.
Tapi ada satu hal yang tetap sama sejak dulu sampai sekarang, mata ikut menjalani seluruh perjalanan itu bersama saya. Mata ikut berangkat dari Kuala Lumpur. Mata ikut menyeberangi perbatasan menuju Hatyai. Mata ikut menikmati pasar malam dan Thai tea. Mata ikut memandangi sawah Thailand dari kaca minivan, lalu ikut menyaksikan senja di atas jembatan menuju Penang. Sebagai blogger dan content creator, mata saya bahkan bekerja dua kali lipat, bukan cuma menikmati pemandangan tapi juga membaca papan informasi, mengecek smartphone, membuka peta, mengambil foto dan video, sampai menatap layar laptop untuk menuliskan semua cerita ini.
Karena itu, sejak perjalanan Hatyai ini saya jadi lebih sadar untuk menjaga kenyamanan mata di sela-sela aktivitas harian yang padat. Saya tidak ingin lagi menunggu sampai mata terasa sepet, perih, dan lelah baru mulai memperhatikannya. INSTO DRY EYES sekarang jadi bagian kecil dari perlengkapan perjalanan saya, sesuatu yang mudah dibawa dan dipakai sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan, terutama setelah seharian penuh naik bus, melewati perbatasan, dan sibuk mengurus konten untuk blog maupun media sosial.
Sejauh apa pun kita pergi, sebanyak apa pun cerita yang ingin kita tulis, tubuh tetap membutuhkan jeda. Termasuk mata. Dan mungkin, perjalanan terbaik bukan ketika kita berhasil melihat sebanyak mungkin tempat, tetapi ketika kita masih bisa menikmati setiap pemandangan dengan mata yang tetap nyaman sampai akhir perjalanan.
"Selamat datang kembali di Penang," ucap saya dalam hati begitu Pulau Mutiara Timur itu akhirnya terlihat dari kejauhan. Bukan cuma sebagai Salman yang kembali setelah sebelas tahun, tapi juga sebagai seseorang yang akhirnya belajar bahwa menjaga kenyamanan diri sendiri, termasuk sekadar Mata Kering Jangan Disepelein, sama pentingnya dengan mengejar cerita perjalanan itu sendiri.
#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein
.jpg)


















%20(1)a.jpg)
.jpg)
.jpg)





